Sabtu, 31 Januari 2009

Tak mau diceraikan, Suami tikam istri di depan murid


Serbelawan, Star Pos


Tak terima di ceraikan, pelaku Toto Hartono (43), warga kampung Huta Bah Togu, Nagori Bah Togu, kecamatan Dolok Batu Nanggar, kabupaten Simalungun, nekad menikam dan menggorok leher istrinya, korban Sugiem SPd (38), hingga 7 liang, itu pun pada saat korban sedang mengajar di ruang kelas VI, SD Negeri 094129 Bah Togu, Selasa (27/1), sekitar pukul 14:30 WIB.
Informasi yang berhasil di himpun Star Pos dari kepolisian mengatakan, kejadian itu di picu oleh gugatan cerai dari istri pelaku, beberapa waktu lalu. Diketahui, diantara pasangan suami istri ini yang mempunyai 3 orang anak ini memang sedang ada masalah dan ketersinggungan. Akibatnya, keduanya punya niat mengakhirinya dengan bercerai.
Tepatnya, Selasa (27/1) siang, pelaku Toto yang mendapat kabar, bahwa istrinya sudah menggugat cerai, manjadi naik pitam. Lalu dengan membawa sebilah pisau, Toto mendatangi sekolah tempat istrinya mengajar. Begitu masuk ke areal SDN 094129 tersebut, pelaku Toto langsung menuju ruangan kelas VI, dimana korban Sugiem sedang mengajar anak didiknya.
Begitu masuk ke ruangan, Toto yang sudah mempersiapkan pisau langsung menghunuskan pisau tersebut ke beberapa bagian tubuh korban hingga tujuh liang atau tusukan dan sabetan.
Kontan saja Sugiem roboh bersimbah darah. Kejadian itu tentu menimbulkan trauma bagi murid kelas VI yang melihat tubuh sang guru jatuh bersimbah darah. Hanya dalam tempo hitungan menit, suasana pun langsung ramai. Guru lainnya, yang berada di sekolah tersebut langsung melarikan Sugiem ke rumah sakit sambil menghubungi pihak Polsek Serbelawan.
Beberapa menit kemudian, personil Mapolsek Serbelawan tiba di lokasi dan langsung melakukan olah Tempat Kejadian P. Selanjutnya petugas langsung memburu pelaku ke berbagai tempat termasuk kediamannya. Akhirnya Toto di temukan saat hendak melarikan diri sambil mengendap endap bersembunyi tidak begitu jauh dari komplek SDN 094129.

Kapolres Simalungun AKBP Rudi Hartono SH Sik didampingi Kapolsek Serbelawan AKP E Siagian melalui Pahumas Kompol H Mansyur membenarkan adanya penikaman terhadap seorang guru yang dilakukan suaminya sendiri. Tersangka akan di jerat melanggar pasal 44 UU RI No 33 tahun 2004 yo Pasal 51 ayat (1) dan (2) KUHPidana tentang penghapusan KDRT dan penganiayaan. Toto juga sudah di tahan di Mapolsek Serbelawan dan akan terus di periksa akibat perbuatannya melakukan tindak pidana tersebut ungkap Mansyur.

Sementara itu menurut pantauan Star Pos ketika berada di ruang VI Paviliun C RSUD Djasamen Saragih tempat Sugiem di rawat melihat bahwa kondisi Sugiem sudah sedikit membaik. Terlihat sesekali Sugiem memanggil anaknya yang sedang berkumpul bersama keluarga dan kerabat lain. Sementara pada leher Sugiem terlihat perban menutup luka gorok yang di lakukan suaminya, Sama dengan beberapa tikaman pada bagian perut dan tangan Sugiem.(hez)

Jamkesmas tak membawa perubahan, Andre butuh bantuan




Jalan Bahkora II, Star Pos

Seorang bocah berusia 9 bulan bernama Andre Sianturi masih terus merasakan pembesaran bagian kepalanya akibat penyakit yang disebut dalam istilah kedokteran sebagai Hidrocepallus. Penyakit ini adalah pembengkakan bagian kepala oleh cairan yang semakin lama semakin banyak tanpa ada perubahan sedikitpun. Bahkan Jamkesmas yang sudah pernah mengantarkan Andre ke RS Adam Malik Medan pun tidak bisa membawa perubahan baginya. ketika Star Pos mengunjungi Andre di kediamannya pada jumat 30/1 pukul 13:00wib terlihat kondisi bocah berkepala besar ini tidak mampu bergerak banyak. Badannya yang semakin kurus dan ceking juga mengundang prihatin dari siapa saja yang akan melihatnya. Di sela tangis tanpa air mata nya Andre sangat mengharapkan keadaan normal seperti balita lain.

Ayah Andre bernama Heddon Sianturi (29) dan ibunya Rusmawati br Rumapea (27) yang tinggal di jalan Bahkora II dusun Huta bagasan kelurahan Sukaraja Kecamatan Siantar Marihat hanya bisa berduka setiap kali memandang anak pertama mereka yang semakin hari semakin mengalami pembesaran pada kepala.

Heddon mengatakan bahwa upaya dan usaha mereka memang kurang maksimal untuk mengobati Andre, ini di sebabkan factor ekonomi yang semakin sulit saat ini. Terlebih Heddon adalah seorang pengangguran dan kesehariannya merawat Andre bersama istrinya di rumah.

Memang pernah Andre di rujuk kerumah sakit Adam Malik Medan, saat itu Heddon dan br Rumapea sudah berharap banyak agar anak mereka sembuh dan keadaannya normal. Namun entah mungkin karena Jamkesmas mendapat pelayanan kurang atau memang peralatan Di sana tidak lengkap, maka pada waktu itu mereka hanya mendapat pernyataan dari Dr Syahrul yang merupakan dokter syaraf di RS tersebut bahwa peralatan mereka tidak lengkap untuk melakukan pengobatan terhadap Andre.

Pernyataan dokter ini tentu membuat kami sekeluarga menjadi putus asa, dimana banyak juga komentar dari warga yang mengatakan bahwa penyakit seperti ini tidak bisa di sembuhkan. Ini tentu saja membuat harapan kami semakin pupus ungkap br Rumapea.
Selama di rumah sakit Adam Malik Medan pun Andre hanya mendapat kamar gratis saja, namun untuk obat tidak pernah sama sekali di berikan pihak rumah sakit. Setiap hari kepala dan badannya hanya di timbang dan di ukur namun obat tidak pernah di berikan. Sampai pulang dari sana Andre hanya diberikan sebotol obat batuk untuk orang dewasa oleh rumah sakit. Itu pun terpaksa saya yang meminumnya tambah br Rumapea.


Sementara saat lahir pada 13 April 2008 kondisi Andre normal saja, hanya pada bagian samping kepalanya saja yang mengalami benjolan dan lembek. Hal ini pun pernah di tanyakan ke Bidan di sana, jawaban Bidan waktu itu karena Andre lahir premature alias lahir belum cukup bulan (7bulan). Ada juga yang mengatakan bahwa sejak di dalam kandungan Andre kurang asupan gizi. Komentar ini semua tidak begitu di hiraukan oleh Heddon dan br Rumapea waktu itu. Namun sejak usia Andre bertambah bulan maka bertambah pula pembengkakan yang ada di kepalanya. Terakhir kami ukur pada bulan lalu (des 08) kepala Andre sudah mencapai diameter 90cm.

Yang dapat di lakukan Andre sekarang hanya bisa menangis, untuk belajar bicara mungkin jauh dari Andre saat ini. Bahkan matanya sudah hampir tertutup oleh kepalanya yang semakin besar. Jika kepala yang membesar tersebut di pegang maka akan terkesan lembek. Ini karena dalam kepalanya berisi cairan yang semakin hari semakin banyak.

Heddon dan br Rumapea sekarang hanya bisa berharap keajaiban untuk menyembuhkan Andre, untuk mengoperasi kepala dan mengobatinya mungkin kami sudah tidak mampu berbuat apa apa ucap br Rumapea. Terus terang saja kami ini orang miskin dan tidak punya apa apa, suami saya juga tidak bekerja. Darimana kami bisa mendapatkan biaya untuk mengobati Andre tambahnya.

Sementara itu lurah kelurahan Sukaraja Nurita Hutajulu SPd ketika di temui Star Pos mengatakan bahwa selaku pihak kelurahan pihaknya sudah mengupayakan agar Andre mendapatkan Jamkesmas. Jadi pada waktu itu staff kelurahan sendiri yang membawa dan membonceng br Rumapea untuk mengurus Jamkesmas. Dan setelah berhasil maka Andre bias di rujuk ke Rumah sakit Umum Djasamen Saragih untuk selanjutnya dilanjutkan ke Rumah sakit Adam Malik Medan ungkap N br Hutajulu.

Andre yang menderita Hidrocepallus ternyata sudah pernah di hantarkan Jamkesmas ke RS Adam Malik Medan untuk perobatan, namun Jamkesmas itu sendiri tak juga membawa perubahan apapun terhadap Andre.(hez)